Selasa, 27 Februari 2018

PENDEKATAN SIKLUS HIDUP KELUARGA DALAM DEMOGRAFI



DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.................................................................................................... i

BAB 1 PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG......................................................................... 1
B.     RUMUSAN MASALAH..................................................................... 2
C.    TUJUAN............................................................................................... 2
D.    MANFAAT.......................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN

A.    Defenisi siklus hidup keluarga.............................................................. 4
B.     Tahap – tahap siklus hidup keluarga..................................................... 4
C.     Perluasan tahap – tahap siklus hidup keluarga yang dasar.................... 5
D.    Pentingnya konsep siklus hidup keluarga........................................... 14
E.     Mortalitas dan siklus hidup keluarga.................................................. 14
F.      Fertilitas, keluarga berencana (KB), dan siklus hidup keluarga.......... 15
G.    Tahap meninggalkan rumah................................................................ 18
H.    Model – model siklus hidup keluarga................................................. 18
I.       Ketegangan dan siklus keluarga.......................................................... 20
BAB III PENUTUP
A.     KESIMPULAN................................................................................. 29
B.     SARAN.............................................................................................. 30

DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG
Siklus kehidupan adalah suatu rangkaian aktivitas secara alami yang dialami oleh individu-individu dalam populasi berkaitan dengan perubahan tahap-tahap dalam kehidupan. Suatu model demografik terdiri dari tahap-tahap dan transisi- transisi antar tahap-tahap tersebut yang mendeskripsikan tentang masa depan suatu in-dividu yang diistilahkan dengan pertumbuhan, kemampuan bertahan hidup, dan proses reproduksi pada rentang waktu berturut-turut.
Teori perkembangan keluarga menguraikan perkembangan keluarga dari waktu ke waktu dengan membaginya ke dalam satu seri tahap perkembangan dianggap sebagai masa-masa stabilitas relatif yang secara kuantitatif dan kualitatif berbeda dari tahap-tahap berdekatan. Tentang konsep tahap-tahap siklus kehidupan tergantung pada asumsi bahwa dalam keluarga terdapat saling ketergantungan yang tinggi antara anggota keluarga : keluarga dipaksa untuk berubah setiap kali ada penambahan atau pengurangan anggota keluarga, atau setiap kali anak sulung mengalami perubahan tahap perkembangan. Misalnya, perubahan dalam peran, penyesuaian terhadap perkawinan, mengasuh anak dan disiplin terbukti perubahan dari satu tahap ke  tahap lain. Keluarga mengambil satu jenis struktur ketika anak-anak masih berusia prasekolah ; struktur lain ketika orang tua mulai mengikuti puncak hidup dan anak-anak memasuki masa remaja ; dan akhirnya bentuk struktur yang lain adalah ketika anak-anak mulai dewasa, menikah dan mulai mandiri. Teori stress keluarga bahwa stressor keluarga yang dapat menjadi suatu krisis, berhubungan dengan adanya sumber koping keluarga dan persepsi pada stresor  tersebut. Sedangkan sumber koping dan persepsi pada stressor dapat menjadi aspek yang penting dalam mengembangkan strategi koping keluarga untuk mengatasi krisis/masalah. Bila keluarga memiliki sedikit sumber kopingnya baik secara individu maupun kolektif, maka proses koping tidak akan pernah dimulai dan krisis dapat terjadi ketika terjadi stress.

B.   RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1.      Apakah defenisi siklus hidup keluarga ?
2.      Bagaimana tahap – tahap siklus hidup keluarga ?
3.      Bagaimana tahap – tahap siklus hidup keluarga yang dasar ?
4.      Bagaimana pentingnya konsep siklus hidup keluarga ?
5.      Bagaimana peran mortalitas dalam siklus hidup keluarga ?
6.      Bagaimana peran fertilitas,keluarga berencana(KB) dalam siklus hidup keluarga ?
7.      Bagaimana tahap meninggalkan rumah ?
8.      Bagaimana model – model siklus hidup keluarga ?
9.      Apa ketegangan dan siklus keluarga ?

C.   TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui defenisi siklus hidup keluarga ?
2.      Untuk mengetahui tahap – tahap siklus hidup keluarga ?
3.      Untuk mengetahui penjelasan tentang tahap – tahap siklus hidup keluarga?
4.      Untuk mengetahui pentingnya konsep siklus hidup keluarga ?
5.      Untuk mengetahui peran mortalitas dalam siklus hidup keluarga ?
6.      Untuk mengetahui fertilitas, keluarga berencana (KB) dalam siklus hidup keluarga ?
7.      Untuk mengetahui tahap meninggalkan rumah ?
8.      Untuk mengetahui model – model siklus hidup keluarga ?
9.      Untuk mengetahui ketegangan dan siklus keluarga ?

D.   MANFAAT
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah :
1.      Dapat memahami pengertian siklus hidup keluarga ?
2.      Dapat memahami tahap – tahap siklus hidup keluarga ?
3.      Dapat memahami secara jelas tahap – tahap siklus hidup keluarga ?
4.      Dapat memahami pentingnya konsep siklus hidup keluarga ?
5.      Dapat memahami mortalitas dan siklus hidup keluarga ?
6.      Dapat memahami fertilitas, keluarga berencana (KB), dan siklus hidup keluarga ?
7.      Dapat memahami tahap – tahap meninggalkan rumah ?
8.      Dapat memahami model – model siklus hidup keluarga ?
9.      Dapat memahami ketegangan dan siklus keluarga ?































BAB II
PEMBAHASAN

PENDEKATAN SIKLUS HIDUP KELUARGA DALAM DEMOGRAFI
A.    Defenisi siklus hidup keluarga
Siklus Hidup Keluarga (Family Life Cycle) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan-perubahan dalam jumlah anggota, komposisi dan fungsi keluarga sepanjang hidupnya. Siklus hidup keluarga juga merupakan gambaran rangkaian tahapan yang akan terjadi atau diprediksi yang dialami kebanyakan keluarga.
Siklus hidup keluarga terdiri dari variabel yang dibuat secara sistematis menggabungkan variable demografik yaitu status pernikahan, ukuran keluarga, umur anggota keluarga, dan status pekerjaan kepala keluarga.

B.     Tahap – tahap siklus hidup keluarga
Dalam ilmu kependudukan biasanya dikenal dengan 6 tahap siklus hidup keluarga, yaitu:
1)      Tahap Tanpa Anak
Dimulai dari perkawinan hingga kelahiran anak pertama.
2)      Tahap Melahirkan (Tahap Berkembang)
Dimulai dari kelahiran anak sulung hingga anak bungsu.
3)      Tahap Menengah
Dimulai dari kelahiran anak bungsu, hingga anak sulung meninggalkan rumah atau menikah
4)      Tahap Meninggalkan Rumah
Dimulai dari anak sulung meninggalkan rumah sampai anak bungsu meninggalkan rumah (perkawinan biasanya dianggap meninggalkan rumah).


5)      Tahap Purna Orang Tua
Dimulai dari saat anak bungsu meninggalkan rumah, hingga salah satu pasangan meninggal dunia.
6)      Tahap Menjanda/Menduda
Dimulai dari saat meninggalnya suami atau istri, hingga pasangannya meninggal dunia.

C.    Perluasan tahap – tahap siklus hidup keluarga
Tahap-tahap siklus kehidupan keluarga telah diuraikan oleh Duvall dan Miller (1985) dan Carter dan McGoldrick (1988). Tahap-tahap tersebut terdiri dari 9 tahap siklus kehidupan keluarga sebagai berikut :
v  Tahap transisi : Keluarga antara (dewasa muda yang belum menikah)
Tahap ini menunjuk ke masa dimana individu berumur 20-an yang telah mandiri secara finansial, dan secara fisik telah meninggalkan keluarganya namun belum berkeluarga. Bagaimana dewasa muda melewati tahap ini sangat mempengaruhi siapa yang dinikahinya serta bagaimana dan kapan pernikahan itu berlangsung. Untuk melewati tahap ini dengan sukses, dewasa muda harus berpisah dari keluarga asalnya (mandiri) tapi masih menjaga kontak emosional.
Tugas-tugas perkembangan pada tahap ini adalah
·         pisah dari keluarga asal
·         menjalin hubungan intim dengan teman sebaya
·         membentuk kemandirian dalam hal pekerjaan dan finansial.
Masalah-masalah kesehatan yang sering dijumpai pada tahap ini antara lain STD, masalah kesehatan mental, kecelakaan dan bunuh diri. Promosi kesehatan yang dapat dianjurkan adalah agar dewasa muda menghindari obat-obat terlarang, alkohol dan tembakau, serta mendapatkan tidur, nutrisi, istirahat, olahraga, perawatan gigi, dan uji kesehatan secara adekuat.


1.      Tahap I : Keluarga pemula
Pernikahan dari sepasang insan menandai dimulainya keluarga baru. Tugas perkembangan yang paling penting dalam tahap ini adalah
·         membangun perkawinan yang saling memuaskan
·         menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis
·          keluarga berencana.
Ketika dua orang diikat dalam satu pernikahan, maka mereka membangun SATU kehidupan bersama yang baru. Bersama-sama mereka menciptakan rutinitas baru yang sebelumnya dikompromikan bersama, dan memelihara rutinitas tersebut. Membangun perkawinan yang saling memuaskan juga berarti menyesuaikan diri dengan perbedaan-perbedaan yang ada, jangan sampai terjadi konflik. Untuk mencegah konflik, perlu dikembangkan sikap empati, saling mendukung, serta komunikasi secara terbuka dan sopan. Pernikahan berarti menyatukan dua keluarga. Sehingga otomatis orang menikah akan menjadi bagian dari 3 keluarga : keluarga asal, keluarga pasangan, dan keluarga sendiri yang baru dibina.
Di sini, suami-istri harus membina hubungan yang baik dengan setiap anggota keluarga, dan secara bersamaan menjaga otonomi keluarga sendiri sehingga tidak ada campur tangan yang akan merusak kebahagiaan bahtera pernikahan.
Masalah yang timbul antara lain masalah-masalah seksual dan emosional, kecemasan, kehamilan yang tidak diinginkan, dan penyakit kelamin baik sebelum maupun sesudah perkawinan. Untuk mengatasinya perlu ada penyuluhan dan konseling keluarga berencana, penyuluhan dan konseling prenatal, dan komunikasi.



2.      Tahap II : Keluarga yang sedang mengasuh anak
Tahap kedua dimulai dengan kelahiran anak pertama sampai bayi berumur 30 bulan. Meskipun bagi kebanyakan orang tua memiliki bayi merupakan pengalaman penuh arti dan menyenangkan, kedatangan bayi membutuhkan perubahan peran yang mendadak. Setelah kelahiran bayi, keluarga mempunyai beberapa tugas perkembangan yang penting, antara lain
·         membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap (mengintegrasikan bayi baru ke dalam keluarga)
·         rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota keluarga
·         mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan
·         memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peran-peran orang tua serta kakek dan nenek.
Masalah perkawinan yang sering terjadi pada tahap ini adalah suami merasa diabaikan (ini paling sering disebutkan oleh suami), terdapat peningkatan perselisihan dan argumentasi antara suami istri, serta kehidupan seksual dan sosial yang terganggu dan menurun. Untuk mengatasinya, sangat penting membentuk kembali pola-pola komunikasi yang memuaskan. Pasangan harus terus berbagi dan berinteraksi satu sama lain dalam hal tanggung jawabnya sebagai orang tua, dan peka tidak hanya dalam masalah pemenuhan kebutuhan seksual tapi psikologis pada umumnya.
Masalah-masalah utama keluarga dalam tahap ini adalah pendidikan maternitas, perawatan bayi yang baik, pengenalan dan penanganan masalah-masalah kesehatan fisik secara dini, imunisasi, konseling perkembangan anak, keluarga berencana, interaksi keluarga, dan peningkatan kesehatan secara umum.
Peran yang paling penting bagi perawat keluarga bila bekerja dengan keluarga yang sedang mengasuh bayi adalah mengkaji peran sebagai orang tua; bagaimana kedua orang tua berinteraksi dengan bayi baru dan merawatnya, dan bagaimana respon bayi tersebut. Konseling keluarga berencana biasanya berlangsung saat pemeriksaan setelah postpartum 6 minggu. Orang tua diajak berdiskusi mengenai perencanaan untuk memiliki bayi berikutnya. Orang tua perlu menyadari bahwa kehamilan dengan jarak rapat dan sering dapat berbahaya bagi ibu, ayah, saudara bayi dan unit keluarga secara keseluruhan.

3.      Tahap III : Keluarga dengan anak usia prasekolah
Tahap ketiga siklus kehidupan keluarga dimulai ketika anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir ketika anak berusia 6 tahun.  Anak usia prasekolah harus banyak belajar pada tahap ini, khususnya dalam hal kemandirian. Mereka harus mencapai otonomi yang cukup sehingga mampu memenuhi kebutuhan sendiri tanpa campur tangan orang tua dimanapun mereka berada. Akhir-akhir ini banyak berkembang pendidikan prasekolah seperti PAUD, dsb. Program-program prasekolah yang terstruktur sangat bermanfaat dalam meningkatkan IQ dan keterampilan sosial.Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah
·         memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti rumah, ruang bermain, privasi, dan keamanan
·         mensosialisasikan anak
·         mengintegrasikan anak yang baru sementara tetap mememuhi kebutuhan anak-anak yang lain
·         mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga (hubungan perkawinan dan hubungan orang tua dan anak) serta di luar keluarga (keluarga besar dan komunitas).
Anak usia prasekolah sangat senang mengeksplor dunia di sekitarnya. Karena itu penting bagi orang tua untuk menyediakan peralatan dan fasilitas yang bersifat melindungi anak-anak, karena pada tahap ini kecelakaan menjadi penyebab utama kematian dan cacat. Mengkaji keamanan rumah merupakan tugas penting bagi perawat keluarga dan kesehatan komunitas sehingga orang tua dapat mengetahui resiko-resiko yang ada dan cara-cara mencegah kecelakaan.
Penelitian menunjukkan bahwa hubungan perkawinan sering mengalami kegoncangan pada tahap ini. Pasangan suami istri masing-masing merasakan perubahan kepribadian yang negatif, merasa kurang puas dengan keadaan di rumah, terdapat lebih banyak interaksi yang berorientasi pada tugas, pembicaraan pribadi lebih sedikit dan pembicaraan yang berpusat pada anak lebih banyak, kehangatan yang diberikan kepada anak lebih banyak daripada yang diberikan satu sama lain, dan tingkat kepuasan seksual lebih rendah.
Konselor perkawinan sangat dibutuhkan dalam hal ini.
Masalah-masalah yang sering terjadi antara lain masalah kesehatan fisik anak seperti penyakit-penyakit menular yang lazim pada anak, jatuh, luka bakar, keracunan, dan kecelakaan-kecelakaan lain yang terjadi selama usia prasekolah. Masalah-masalah lain yang penting adalah persaingan di antara kakak-adik, keluarga berencana, kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan, masalah-masalah pengasuhan anak, masalah komunikasi dalam keluarga, serta kesehatan umum.
Tujuan utama bagi perawat yang melayani keluarga dengan anak usia prasekolah adalah membantu mereka membentuk gaya hidup sehat dan memfasilitasi pertumbuhan fisik, intelektual, emosional dan sosial secara optimal.

4.       Tahap IV : Keluarga dengan Anak Usia Sekolah
Tahap ini dimulai ketika anak pertama telah berusia 6 tahun dan mulai masuk sekolah dasar dan berakhir pada usia 13 tahun, awal dari masa remaja. Keluarga biasanya mencapai jumlah anggota maksimum, dan hubungan keluarga di akhir tahap ini. Lagi-lagi tahun-tahun pada masa ini merupakan tahun-tahun yang sibuk. Kini, anak-anak mempunyai keinginan dan kegiatan-kegiatan masing-masing, disamping kegiatan-kegiatan wajib dari sekolah dan dalam hidup, serta kegiatan-kegiatan orangtua sendiri. Setiap orang menjalani tugas-tugas perkembangannya sendiri-sendiri, sama seperti keluarga berupaya memenuhi tugas-tugas perkembangannya sendiri . Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga:
·         Mensosialisasikan anak-anak, termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sehat.
·         Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.
·         Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga
Tugas orangtua pada tahap ini adalah untuk belajar menghadapi pisah dengan atau lebih sederhana, membiarkan anak pergi. Lama kelamaan hubungan dengan teman sebaya dan kegiatan-kegiatan diluar rumah akan memainkan peranan yang lebih besar dalam kehidupan anak usia sekolah tersebut. Tahun-tahun ini dipenuhi oleh kegiatan-kegiatan keluarga, tapi ada juga kekuatan-kekuatan yang secara perlahan-lahan mendorong anak tersebut pisah dari keluarga  sebagai persiapan menuju masa remaja. Orangtua yang mempunyai perhatian diluar anak mereka akan merasa lebih mudah membuat perpisahan yang perlahan-lahan. Akan tetapi, dalam contoh-contoh dimana peran ibu merupakan sentral dan satu-satunya peran yang signifikan dalam kehidupan wanita, maka proses pisah ini merupakan sesuatu yang menyakitkan dan dipertahankan mati-matian.

5.      Tahap V : Keluarga dengan Anak Remaja
Ketika anak pertama melewati umur 13 tahun, tahap kelima dari siklus kehidupan keluarga dimulai. Tahap ini berlangsung selama 6 hingga 7 tahun, meskipun tahap ini dapat lebih singkat jika anak meninggalkan keluarga lebih awal atau lebih lama jika anak masih tinggal di rumah hingga 19 atau 20 tahun. Anak-anak lain dalam rumah biasanya masih dalam usia sekolah. Tujuan keluarga yang terlalu enteng pada tahap ini yang melonggarkan ikatan keluarga memungkinkan tanggungjawab dan kebebasan yang lebih besar bagi remaja dalam persiapan menjadi dewasa muda (Duvall, 1977). Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga :
·         Menyeimbangkan kebebasan dan tanggungjawab ketika remaja menjadi dewasa dan semakin mandiri.
·         Memfokuskan kembali hubungan perkawinan.
·          Berkomunikasi secara terbuka antara orangtua dan anak-anak.
Masalah-Masalah Kesehatan pada tahap ini kesehatan fisik anggota keluarga biasanya baik, tapi promosi kesehatan tetap menjadi hal yang penting. Faktor-faktor resiko harus diidentifikasikan dan dibicarakan dengan keluarga, seperti pentingnya gaya hidup keluarga yang sehat. Mulai dari usia 35 tahun, resiko penyakit jantung koroner meningkat dikalangan pria dan pada usia ini anggota keluarga yang dewasa merasa lebih rentan terhadap penyakit sebagai bagian dari perubahan-perubahan perkembangan dan biasanya mereka ini menerima strategi-strategi promosi kesehatan. Sedangkan pada remaja, kecelakaan-terutama kecelakaan mobil-merupakan bahaya yang amat besar, dan patah tulang dan cidera karena atletik juga umum terjadi.
6.       Tahap VI : Keluarga yang Melepaskan Anak Usia Dewasa Muda
Permulaan dari fase kehidupan keluarga ini ditandai oleh anak pertama meninggalkan rumah orangtua dengan “rumah kosong”, ketika anak-anak terakhir meninggalkan rumah. Tahap ini dapat singkat atau agak panjang, tergantung pada berapa banyak anak yang ada dalam rumah atau berapa banyak anak yang melum menikah yang masih tinggal di rumah setelah tamat dari SMA dan perguruan tinggi. Meskipun tahap ini biasanya 6 atau 7 tahun, dalam tahun-tahun belakangan ini, tahap ini berlangsung lebih lama dalam keluarga dengan dua orangtua, mengingat anak-anak yang lebih tua baru meninggalkan orangtua setelah selesai sekolah dan mulai bekerja. Motifnya adalah seringkali ekonomi-tingginya biaya hidup bila hidup sendiri. Akan tetapi, trend yang meluas dikalangan dewasa muda, yang umumnya menunda perkawinan, hidup terpisah dan mandiri dalam tatanan hidup mereka sendiri. Dari sebuah survey besar yang dilakukan terhadap orang Kanada ditemukan bahwa anak-anak yang berkembangan dalam keluarga dengan orangtua tiri dan keluarga dengan orangtua tunggal meninggalkan rumah lebih dini dari pada mereka yang dibesarkan dalam keluarga dengan dua orangtua. Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga :
·         Memperluas siklus keluarga dengan memasukkan anggota keluarga baru yang didapatkan melalui perkawinan anak-anak.
·         Melanjutkan untuk memperbaharui dan menyesuaikan kembali hubungan perkawinan.
·         Membantu orangtua lanjut usia dan sakit-sakitan dari suami maupun istri.
7.       Tahap VII : Orangtua Usia Pertengahan
Tahap ketujuh dari siklus kehidupan keluarga, tahap usia pertengahan bagi orangtua, dimulai ketika anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir pada saat pensiun atau kematian salah satu pasangan. Tahap ini biasanya dimulai ketika orangtua memasuki usia 45-55 tahun dan berakhir pada saat seorang pasangan pensiun, biasanya 16-18 tahun kemudian.Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga :
·         Menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan.
·         Mempertahankan hubungan-hubungan yang memuaskan dan penuh arti dengan para orangtua lansia dan anak-anak.
·         Memperkokoh hubungan perkawinan.
Masalah kesehatan yang disebut dalam seluruh deskripsi tahap siklus kehidupan ini meliputi :
·         Kebutuhan promosi kesehatan, istirahat yang cukup, kegiatan waktu luang dan tidur, nutrisi yang baik, program olahraga yang teratur, pengurangan berat badan hingga berat badan yang optimum, berhenti merokok, berhenti atau mengurangi penggunaan alkohol, pemeriksaan skrining kesehatan preventif.
·         Masalah-masalah hubungan perkawinan.
·         Komunikasi dan hubungan dengan anak-anak, ipar, dan cucu, dan orangtua yang berusia lanjut.
·         Masalah yang berhubungan dengan perawatan ; membantu perawatan orangtua yang berusia atau tidak mampu merawat diri.
8.      Tahap VIII : Keluarga dalam Masa Pensiun dan Lansia
Tahap terakhir siklus kehidupan keluarga dimulai dengan salah satu atau kedua pasangan memasuki masa pensiun, terus berlangsung hingga salah satu pasangan meninggal, dan berakhir dengan pasangan lain meninggal. Jumlah lansia-berusia 65 tahun atau lebih. Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga :
·         Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan
·         Menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun.
·         Mempertahankan hubungan perkawinan.
·         Menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan.
·         Mempertahankan ikatan keluarga antar generasi.
·          Meneruskan untuk memahami eksistensi mereka (penelaahan dan integrasi hidup).




D.    pentingnya konsep siklus hidup keluarga
Siklus hidup keluarga dalam ilmu kependudukan  dipandang penting, karena  lima alasan pokok sebagai berikut :
a.       Menunjukan interaksi antara anggota keluarga. Peristiwa-peristiwa seperti kelahiran, kematian, dan perubahan umur atau status anak, tidak hanya mempengaruhi individu-individu yang bersangkutan, tetapi juga anggota keluarga yang lain.
b.      Memperjelas pengaruh yang kontinu dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahap-tahap awal siklus terhadap kehidupan keluarga sampai akhir siklus tersebut.
c.       Menghilangkan konsepsi yang salah tentang keluarga, misalnya pandangan bahwa keluarga hanya  melewati satu atau dua tahap tertentu saja.
d.      Merupakan suatu ringkasan yang penting tentang pengaruh gabungan faktor-faktor fertilitas, mortalitas, nupsialitas dengan faktor-faktor ekonomi dan kebudayaan.
e.       Dapat menjelaskan bermacam-macam variasi kegiatan sosial demografi dan sosial ekonomi.

E.     Mortalitas dan siklus hidup keluarga
Mortalitas adalah jumlah kematian yang terjadi pada setiap 1000 jumlah penduduk dalam jangka waktu satu tahun. Mortalitas atau kematian merupakan salah satu antara tiga komponen demografi yang dapat mempengaruhi perubahan penduduk. Dua komponen demografi lainnya adalah fertilitas (kelahiran) dan migrasi, informasi tentang kematian penting, tidak saja bagi pemerintah melainkan juga pihak swasta, yang terutama berkecimpung dalam bidang ekonomi dan kesehatan
Keluarga adalah sistem sosial yang unik. Cara masuk ke dalam sistem ini adalah melalui kelahiran, pengadopsian, pengangkatan, pernikahan. Memutuskan seluruh koneksi kekeluargaan adalah hal yang mustahil. Anggota keluarga juga biasanya memiliki peran tertentu. Hubungan antar anggota keluarga merupakan hal yang paling penting dan tidak tergantikan.
Siklus Hidup Keluarga (Family Life Cycle) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan-perubahan dalam jumlah anggota, komposisi dan fungsi keluarga sepanjang hidupnya. Siklus hidup keluarga juga merupakan gambaran rangkaian tahapan yang akan terjadi atau diprediksi yang dialami kebanyakan keluarga.
Siklus hidup keluarga terdiri dari variabel yang dibuat secara sistematis menggabungkan variable demografik yaitu status pernikahan, ukuran keluarga, umur anggota keluarga, dan status pekerjaan kepala keluarga.
Mortalitas juga dapat mempengaruhi siklus hidup keluarga karena kematian merupakan pengurangan jumlah keluarga dan termasuk dalam tahap – tahap siklus hidup keluarga.

F.     Fertilitas, keluarga berencana (KB), dan siklus hidup keluarga
Fertilitas (Inggris: Fertility) sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi yang nyata dari seorang wanita atau sekelompok wanita. Dengan kata lain, fertilitas ini menyangkut banyaknya bayi yang lahir hidup. Fekunditas, sebaliknya, merupakan potensi fisik untuk melahirkan anak. Kedua hal ini berkaitan erat, dimana fekunditas merupakan modal awal dari seorang perempuan untuk mengalami fertilitas dalam hidupnya dan seorang yang telah mengalami fertilitas pasti fekunditasnya baik.
Kelahiran dapat diartikan sebagai hasil reproduksi yang nyata dari seorang wanita atau kelompok wanita. Fertilitas merupakan taraf kelahiran penduduk yang sesungguhnya berdasarkan jumlah kelahiran yang terjadi. Pengertian ini digunakan untuk menunjukkan pertambahan jumlah penduduk. Fertilitas disebut juga dengan natalitas.
Apakah ingin memiliki anak atau tidak dan penentuan waktu untuk hamil merupakan suatu keputusan keluarga yang sangat penting. Littlefield (1977) menekankan pentingnya pertimbangan semua rencana kehamilan keluarga ketika seseorang bekerja di bidang perawatan maternitas. Tipe perawatan kesehatan yang didapat keluarga sebagai sebuah unit selama masa prenatal sangat mempengaruhi kemampuan keluarga mengatasi perubahan-perubahan yang luar biasa dengan efektif setelah kehamilan bayi.
Usia antara 15-49 tahun merupakan usia subur bagi seseorang wanita karena pada rentang usia tersebut kemungkinan wanita melahirkan anak cukup besar. Salah satu cara untuk menekan laju penduduk adalah melalui program Keluarga Berencana (KB). Fertilitas memiliki pengukuran, dimana angka fertilitas menurut golongan umur dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan angka kelahiran kasar karena tingkat kesuburan pada setiap golongan umur tidak sama hingga gambaran kelahiran menjadi lebih teliti. Perhitungan angka fertilitas menurut golongan umur biasanya dilakukan dengan interval 5 tahun hingga bila wanita dianggap berusia subur terletak antara umur 15-49 tahun, akan diperoleh sebanyak 7 golongan umur. Dengan demikian dapat disusun menjadi distribusi frekuensi pada setiap golongan umur. Dari distribusi frekuensi tersebut, dapat diketahui pada golongan umur berapa yang mempunyai tingkat kesuburan tertinggi. Hal ini penting untuk menentukan prioritas program keluarga berencana.
KB dirumuskan sebagai upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui batas usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Menurut para ulama (di kutip dari media online BKKBN) KB di sini mempunyai arti sama dengan tanzim al nasl (pengaturan keturunan). Sejauh pengertiannya tanzim al nasl bukan tahdid al nasl (pembatasan keturunan) dalam arti pemandulan (taqim) dan aborsi (isqath al-haml wa al ijhadl) maka KB tidak dilarang. Meski secara teoritis telah banyak fatwa ulama yang membolehkan KB dalam arti tanzim al nasl tetapi tetap harus memperhatikan jenis dan cara kerja alat atau metode kontrasepsi yang akan digunakan untuk ber-KB.
Peserta keluarga berencana adalah pasangan usia subur dimana salah satu atau dua orang dari pasangan tersebut menggunakan salah satu atau alat kontrasepsi untuk tujuan pencegahan kehamilan, baik melalui program maupun non-program. Pasangan usia subur memiliki batasan umur yang digunakan adalah 15–44tahun dan bukan 15-49tahun. Hal ini tidak berarti berbeda dengan perhitungan fertilitas yang menggunakan batasan 15-49 tahun, tetapi dalam kegiatan keluarga berencana mereka yang berada pada kelompok umur 44-49 tahun bukan merupakan sasaran keluarga berencana lagi. Hal ini dilatar belakangi oleh pemikiran bahwa mereka yang berada pada kelompok umur 44–49 tahun, kemungkinan untuk melahirkan lagi sudah sangat kecil.
Keluarga berencana yang kurang diinformasikan dan kurang efektif mempengaruhi kesehatan keluarga dalam banyak cara
·         mobiditas dan moralitas ibu-anak
·         menelatarkan anak
·         sehat sakit orangtua
·         masalah-masalah perkembangan anak
·         termasuk inteligensia kemampuan belajar dan perselisihan dalam perkawinan.
Pembentukan keluarga dengan sengaja dan terinformasi meliputi membuat keputusan sendiri tentang kapan dan/atau apakah ingin mempunyai anak, terlepas dari pertimbangan kesehatan keluarga.
Kesehatan fisik ibu dan anak merupakan masalah utama yang didokumentasikan dalam penelitian kebidanan dan perinatal. Jarak kelahiran antara 2 dan 4 tahun dan usia ibu 20 tahunan merupakan faktor-faktor yang menguntungkan dalam mengurangi mortalitas dan mobiditas ibu dan bayi. Jumlah keluarga yang optimal, jarak dan waktu kelahiran mengurangi mortalitas bayi.
Diagnosa yang mungkin pada keluarga pemula:
·         Gangguan komunikasi verbal
·         Perubahan proses keluarga
·         Perubahan penampilan peran
·          Gangguan interaksi sosial
·          Disfungsi seksual

G.    Tahap meninggalkan rumah
Tahap ‘Meninggalkan Rumah dan Menjadi Individu Dewasa Lajang’. Dimulai dari anak sulung meninggalkan rumah sampai anak bungsu meninggalkan rumah (perkawinan biasanya dianggap meninggalkan rumah). Tahap ini tidak selalu terjadi di budaya kita, karena banyak orang dewasa memilih tinggal di rumah orangtuanya. Yang pasti, ketika sudah mulai kuliah, biasanya seseorang jadi jauh lebih mandiri dibandingkan usia sebelumnya. Yang cukup banyak terjadi di budaya kita adalah beberapa individu dewasa yang sudah memiliki penghasilan ikut membayar beberapa pengeluaran di rumah, sementara yang belum punya penghasilan membantu mengurus rumah. Kemandirian ini (mulai melepas pengaruh orangtua) penting lho dalam tahapan hidup berkeluarga. Justru mereka yang masih terlalu tergantung pada orangtuanya di tahap ini (misalnya masih terus mengharap dibayari oleh orangtua) seringkali mengalami masalah dalam kehidupan berkeluarganya kelak.
·         Membedakan diri dengan keluaga asal dan mengembangkan hubungan sesama.
·         dewasa dengan orang tua
·         Membantung hubungan pertemanan yang intim
·         Memulai karir/pekerjaan
H.    Model – model siklus hidup keluarga
Tahap-tahap siklus hidup keluarga digambarkan ke dalam 2 model, yaitu:
1.      Siklus Hidup Keluarga Model Tradisional
Siklus hidup keluarga model tradisional yaitu pergerakan tahap yang sebagian besar keluarga lewati, dimulai dari belum menikah (bujangan), menikah, pertumbuhan keluarga, penyusutan keluarga, dan diakhiri dengan putusnya unit dasar. Tahapan dari FLC model tradisional adalah:
·         Tahap I: Bachelor
Pemuda/i single dewasa yang hidup berpisah dengan orang tua.
·         Tahap II: Honeymooners
Pasangan muda yang baru menikah.
·         Tahap III: Parenthood
Pasangan yang sudah menikah setidaknya ada satu anak yang tinggal hidup bersama.
·         Tahap IV: Postparenthood
Sebuah pasangan menikah yang sudah tua dimana tidak ada anak yang tinggal hidup bersama.
·         Tahap V: Dissolution
Salah satu pasangan sudah meninggal.

2.      Siklus Hidup Keluarga Model Non-Traditional
a.       Family Household
1)      Childless Couples: pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak dikarenakan oleh pasangan tersebut lebih memilih pada pekerjaan.
2)      Pasangan yang menikah diumur diatas 30 tahun – menikah terlalu lama dikarenakan karir dimana memutuskan untuk memiliki sedikit anak atau justru malah tidak memiliki anak.
3)       Pasangan yang memiliki anak di usia yang terlalu dewasa (diatas 30 tahun).
4)      Single Parent I: single parent yang terjadi karena perceraian.
5)      Single Parent II: pria dan wanita muda yang mempunyai satu atau lebih anak diluar pernikahan.
6)      Single Parent III: seseorang yang mengadopsi satu atau lebih anak.
7)       Extended Family: seseorang yang kembali tinggal dengan orang tuanya untuk menghindari biaya yang dikeluarkan sendiri sambil menjalankan karirnya. Misalnya anak, atau cucu yang cerai kemudian kembali ke rumah orang tuanya.


b.      Non-Family Household
1.      Pasangan tidak menikah
2.       Perceraian tanpa anak
3.      Single Person: orang yang menunda pernikahan atau bahkan memutuskan untk tidak menikah
4.      Janda atau duda

I.       Ketegangan dan siklus keluarga
Konflik terjadi ketikaa cakupan dari suatu posisi merasa bahwa ia berkonflik dengan harapan-harapan yang tidak sesuai. Sumber dari ketidakseimbangn  tersebut boleh jadi disebabkan  oleh adanya perubahan-perubahan dalam harapan yang terjadi dalam diri pelaku, orang lain, atau dalam lingkungan.
Konflik antar peran adalah konflik yang terjadi jika pola-pola perilaku atau norma-norma dari satu peran tidak kongruen dengan peran lain yang dimainkan secara bersamaan oleh individu.
v  Tipe Konflik Peran
1)      Konflik antar peran terjadi ketika peran yang kompleks dari seorang individu yaitu sekelompok peran yang ia mainkan, termasuk sejumlah peran yang tidak seimbang.  Tipe konflik ini disebabkan oleh ketidakseimbangan perilaku-perilaku yang berkaitan dengan berbagai peran atau besarnya tenaga berlebihan yang dibutuhkan oleh peran-peran ini, miisalnya dalam kasus keluarga dimana peran sebagai siswa, penjaga rumah, memasak, perkawinan, perawatan anak dilaksanakan sekaligus.
2)      Konflik peran antar pengirim, didalamnya terdapat dua orang atau lebih yang memegang harapan-harapan yang berkonflik, menyangkut pemeranan suatu peran. Ilustrasi tentang tipe konflik kedua ini adalah adanya harapan-harapan yang berkonflik menyangkut bagaimana peran seseorang, seperti seorang perawat professional harus ditunjukkan.

3)      Person – Role Conflict, tipe ini meliputi suatu konflik antara nilai-nilai ingternal individu dan nilai-nilai eksternal yang dikomunikasikan kepada perilaku oleh orang lain, dan melemparkan pelaku kedalam situasi yyang penuh dengan stress peran.
v  Dimensi-dimensi Normatif Peran
Peran-peran didefinisikan secara normatif atau kultur adalah budaya dimana seseorang berpartisipasi atau dimana individu mengidentifikasi ketentuan-ketentuan dan larangan-larangan perilaku okupan-okupan dari berbagai posisi. Akan tetapi tidak semua peran keluarga bersifat normatif secara merata.  Beberapa peran keluarga lebih terkristalisasi sebagai perilaku yang diharapkan daripada yang lain.
v  Kebersamaan Peran
Kebersamaan peran (Role Sharing menunjuk pada keikutsertaan atau partisipasi dari dua orang atau lebih dalam peran-peran yang sama meskipun mereka memegang peran yang sama. Struktur-struktur peran yang dipisahkan secara tajam merupakan hal tidak lazim dalam keluarga sekarang. Misalnya interaksi social yang dilakukan olah seorang anak harus mendapatkan partisipasi dari segenap anggota keluarga, guru dan lingkungan.
v  Pemeranan (Role Taking)
Agar anggota keluarga dapat memainkan peran-peran, mereka harus mampu membayangkan diri mereka dalam peran dari lawan peran, pasangan mereka, dengan cara ini anggota keluarga dapat mendelegasikan suatu peran kepada orang lain dan juga memahami lebih baik bagaimana mereka harus berperilaku dalam peran-peran mereka sendiri.
v  Peran Formal Keluarga
1.      Posisi formal
a.        Ayah/suami
b.       Istri/ibu
c.        Anak laki-laki/saudara laki-laki
d.      Anak perempuan/saudara perempuan
2.      Posisi Normatif
a.       Suami/ayah sebagai pencari nafkah
b.       Istri/ibu sebagai pengurus rumah tangga
Dalam keluarga dengan orang tua tunggal ibu biasanya memainkan peran sebagai ibu dan ayah tanpa peran dari suami. Dalam keluarga dengan orang tiri suami biasanya akan memainkan peran suami/ayah, tapi karena anak-anak secara biologis bukan anaknya maka peran ayah merupakan sebuah peran pura-pura.

v  Peran Parental dan Perkawinan
Terdapat enam peran yang membentuk posisi social sebagai suami / ayah dan istri/ibu:
·         Peran sebagai provider (penyedia)
·         Peran sebagai pengaturrumah tangga
·         Peran perawatan anak
·         Peran sosialisasi anak
·         Peran rekreasi
·         Peran persaudaraan (memelihara hubungan keluarga paternal dan maternal)
·         Peran terpeutik (memenuhi kebutuhan afektif pasangan)
·         Peran seksual

v  Peran Perkawinan dan Tipe-Tipe perkawinan
Pentingnya hubungan yang harmonis pasangan suami istri merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa dielakkan. Keberadaan anak-anak dapat mempengaruhi kondisi ini, dimana suami   dan istri dapat membangun suatu koalisi dengan salah sorang anaknya. Memelihara suatu hubungan perkawinan yang memuaskan merupakan salah satu tugas perkembangan yang vital dari keluarga , karena keluarga berkembang dalam siklus kehidupan keluarga.

v  Perubahan-perubahan Peran keluarga Kontemporer
Peran-peran anggota keluarga telah menjadi lebih bervariasi, fleksibel dan kompleks. Dimasa lalu, ada “pekerjaan wanita” dan “pekerjaan laki-laki” kebersamaa peran hanya sedikit saja kecuali dalam kondisi-kondisi khusus. Keluarga pada waktu itu hidup menurut aturan-aturan yang dibentuk secara kultur, relative kaku yang dipertahankan oleh tekanan-tekanan social dan moral dari seluruh masyarakat. Saat ini, banyak sekali variasi dalam peran kedua jenis kelamin nampaknya dapat dijalankan dengan mudah. Harapan dan praktik amat jauh berbeda. Dalam satu keluarga, anggota keluarga yang  dewasa diharapkan dapat bekerjasama dan sama-sama memikul semua urusan dan tanggungjawab keluarga; pada keluarga yang lain, peran-peran tradisional diharapkan dan dilaksanakan, namun dalam situasi yang lain keluarga dengan orang tua tunggal, orang dewasa menerima peran dari kedua orang tua ( sebagai ayah dan ibu).

v  Peran pria / ayah dalam Keluarga
Pada kondisi ayah dan ibu bekerja, peran tradisional ibu dalam keluarga berubah fungsi hal ini mengakibatkan timbulnya konflik peran dalam keluarga sampai terjadi perceraian. Perceraian menyebabkan timbulnya konflik baru terjadi perpisahan ayah dan anak karena anak lebih sering pada ibunya.
3 teori fungsi peran ayah menurut Kennedy dalam keluarga, yaitu sebagai pengamat moral, pencari nafkah dan peran seks. Sebagai pengamat moral seorang ayah dianggap sebagai icon kepemimpinan moral dalam keluarga. Sebagai pencari nafkah seorang ayah tidak terlibat dalam perawatan anak, anak-anak dirawat oleh ibunya. Sebagai peran seks seorang ayah berperan membentuk identitas anak laki-laki.

v  Peran Seksual Perkawinan
Diwaktu dulu seoarang pria memiliki untuk menentukan kegiatan seksual dengan istri mereka tetapi tidak merasa mempunyai kewajiban ikut prihatin terhadap perasaan puas istri. Tetapi sekarang hak wanita untuk mendapatkan kenikmatan hubungan seksual dan pemerataannya semakin penting, dan sifat peran seksual bagi kedua pasanganpun berubah (napier,1988)

v  Peran Ikatan keluarga (Kin Keeping)
Wanita merupakan penerus keturunan (memiliki peran dalam mengikat hubungan keluarga) termasuki memelihara komunikasi, mempermudah komunikasi, mempermudah kontak dan tukar menukar barang dan jasa serta memantau hubungan keluarga.

v  Peran Kakek/Nenek
Peran ini cukup menyenangkan namun belum diketahui pengaruh yang signifikan terhadap perilaku cucunya. Fungsi peran ini dipengaruhi oleh usia, etnis, kelas sosial dan gender. Dalam hal mengasuh cucu kakek dan nenekk banyak terlibat dalam pengasuhan cucu mereka pada saat kedua orang tuanya bercerai khususnya jika kakek dan nenek ini masih muda.

v  Masalah – Masalah Perubahan Peran
Status dan peran-peran terkait lain dari individu dalam sebuah keluarga akan mengalami perubahan-perubahan nmelalui berbagai cara yang langsung dalam siklus kehidupan keluarga dan dalam kedua keluarga ( keluarga orientasi dan keluarga parenthood). Perubahan dalam hubungan-hubungan peran, harapan-harapan peran, dan kemampuan menunjuk kepada transisi peran (Meleis, 1975). Transisi-transisi peran berlangsung pada damarkasi kehidupan keluarga, misalnya pada perkawinan, perceraian, kematian orang tua atau pasangan, dan juga agak lebih kabur sebagai suatu respon berkelanjutan terhadap pengalaman hidup. Suatu perubahan peran yang dialami oleh seorang anggota keluarga memaksa perubahan peran pelengkap pada anggota keluarga lain.
Harus diakui bahwa munculnya perubahan peran dalam keluarga tidak akan datang tanpa melibatkan pengalaman seseorang yang memilukan. Keluarga sering mengalami stress yang signifikan selama peran transisi. Ketika individu-individu menyimpang dari harapan-harapan peran normatf dan atau mengambil peran baru, boleh jadi mereka kurang memiliki persiapan untuk memerankan peran tersebut dan sosialisasi sebelumnya secara menyenangkan dan adekuat. Disamping itu, kurangnya latihan yang diperluakan, seseorang anggota keluarga tidak boleh berfikir bahwa peran-peran baru tersebut telah memenuhi keinginan-keinginannya atau kebutuhan-kebutuhannya. Perubahan peran yang diakibatkan kehadiran seorang bayi, pekerjaan istri, suami menganggur, perceraian, realokasi keluarga, dapat menciptakn peran yang membingungkan, cemas, dan ketidakbahagian dalam keluarga dan bias jadi mempertinggi konflik dalam keluarga menurut “Aldous (19740 ‘ dalam buku Fredman.
Perubahan peran diperluakn karena kehadiran bayi merupakn sebuah contoh. Menurut “Ventura (1987) dalam buku Freedman, menyatakan dalam sebuah studi kualitatif terhadap pasangan kelas menengah, ia menemukan bahwa 35% istri yang pertama kali menjadi seorang ibu dan 65% pria yang pertama kali menjadi ayah mengatakan bahwa mereka merasa stress karena tuntutan peran multiple. Data yang dikumpulkan pada tiga bulan setelah partus. Para ibu menjalankan peran parenting dengan jadwal pekerjaan dan pekerjaan dirumah dan hanya menyiksan waktu sangat sedikit bagi mereka. Para ayah menggambarkan stress tersebut dikaitkan dengan karier dan tanggung jawab.

v  Variabel-Variabel Yang Mempengaruhi Struktur Peran
1.      Perbedaan Kelas Sosial
a.        Keluarga kelas bawah
Fungsi kehidupan keluarga dalam hubungannya dengan peran-peran keluarga sudah pasti dipengaruhi oleh tuntutan dan kepentingan yang ada pada keluarga. Keluarga dengan orang tua tunggal merupakan jumlah terbesar dari bentuk tipe keluarga miskin. Tiga puluh persen dari semua keluarga dengan orang tua tunggal hidup dalam kepapaan. ( Getman et al, 1985)
1)      Peran Perkawinan
Stabilitas peran perkawinan dalam status kelas bawah jauh lebih genting daripada kelas social lainnya, dengan masalah perceraian dua kali lebih besar dari pada kelompok kelass menengah. Tingginya tingkat pengangguran pada kelompok masyarakat miskin merupakan suatu stressor utama dalam hubungan perkawinan. Dalam kebanyakan keluarga miskin terdapat suatu demokrasi menyolok menyangkut peran keluarga, atas dasar apa pekerjaan berada didalam atau diluar rumah. Garis kekuasan yang kokoh ini berfungsi untuk memperkuat jarak emosional pasangan.
2)      Peran-peran Parental
Karena secara khusus kebutuhan afektif dan social tidak dipenuhi oleh suami mereka, mereka membuat pelarian emosional lebih dekat kepada anak-anak sebagai kompensasi terhadap kerenggangan emosional. Disini munculah suatu kedekatan yang lebih antar ibu dan anak-anak. Focus peranan parenting dalam keluarga miskin adalah terletak pada pencapaian pemeliharan fungsi , menyediakan nafkah bagi anak, menjamin agar mereka agar mereka makan, istirahat yang cukup. Mandi, dan pergi kesekolah pada waktunnya dan terletak pada penegakan aturan dan disiplin di rumah.
3)      Peran kakak/ adik
Ketika anak telah beranjak dewasa peran seorang kakak atau adik (sibling role) mendapat arti yang penting sebagai suatu “pelaku yang bersosialisasi” ,berbeda dengan keluarga kelas menengah. Jika terjadi kegagalan berkomunikasi di antara orang tua dan anak-anak, subsistem peran kakak/adik cenderung mendorong adanya ekspresi posisi terhadap control parental.
b.      Keluarga Pekerja dan Keluarga Kelas Menengah
Menurut Komarovsky (19640 dalam, buku fredman , menyatakan semakain tinggi pendidikan suami maka semakin besar keakraban dan keharmonisan dalam perkawinan. Keluarga kelas pekerja cebderung memiliki peran keluarga yang lebih didasarkan pada tradisi dari nperan keluarga kelas menengah, suami lebih berkuasa dalam peran sebagai kepala keluarga. Perencanan dalam keluarga dilakukan secara bersama-sama pada kelas menengah karena status pendidikan mereka.
Keluarga kelas menengah umumnya mengasuh anak merupakan sebuah peran yang dipikul secara bersama-sama, berbeda dengan keluarga menengah. Kalangan kelas menengah lebih memperhatikan perkembangan  psikologis, perbedaan individu, kemandirian dan percaya diri anak mereka, sifat-sifat ini didorong untuk keberhasilan hidup dalam bekerja.
2.      Bentuk Bentuk Keluarga
a.       Peran dalam keluarga dengan orang tua tunggal
Peran orang tua tunggal semakin banyak, hal ini disebabkan perceraian, kelahiran diluar perceraian dan penyelewengan oleh pasangan. Kebanyakan keluarga dengan orang tua tunggal dikepalai oleh ibu. dua ciri peran yang menonjol dari keluarga ini adalah (1) peran yang berlebihan dan konflik-konflik peran dan (2) perubahan-perubahan peran dalam keluarga orang tua tunggal. Orang ini harus berperan double sebagai ibu dan ayah, selain itu tidak adanya dukungan dari status perkawinan, sehingga dibebani oleh konflik-konflik peran. Karena kebanyakan orang tua tunggal juga bekerja maka ditemukan adanya tekanan menyangkut peran keluaga maupun pekerjaan dan menurunnya tingkat keadaan sehat.
b.      Peran dalam keluarga dengan orang tua  tiri
Keluarg-keluarga dengan orang tua tiri beresiko memiliki masalah serius lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga orang tua tunggal. Salah satu alasan utama.dari hall ini adalah semakin besarnya kompleksitas yang masuk dalam penyatuan seorang seorang ayah tiri ke dalam sebuah keluarga yang telah terbentuk, ditambah dengan kesetian campuran sebagai istri-ibu kepada suami baru di satu pihak dan anak-anak dipihak lain.
Ketika orang tua masuk ke daalm suaru hubungan dimana ayah tiri menjadi kepala keluarga yang diman ia bukan orang tau murni, maka akan terjadi perubahan nilai dan aturan yang akan menjadi persoalan.
3.      Latar Belakang Keluarga
Norma dan niali sangat mempengaruhi bagaimana peran dilaksanakan dalam sebuah keluarga tertentu. Dalam sejumlah budaya, peran formal keluarga dilaksanakan oleh anggota keluarga besar yang memegang posisi dari keluarga lain. Karena banyak sekali pasangan nikah yang secara kultur bersifat heterogen, sebuah masalah utama dalam tipe keluarga ini biasanya ketidak kongruennya peran, karena perbedaan latar belakang budaya pasangan dan karena harapan terhadap peran yang dimiliki berbeda.
4.       Tahap Siklus Kehidupan Keluarga
Cara yang digunakan oleh keluarga untuk melaksanakan peran berbeda-beda dari satu tahap siklus kehidupan keluarga ke tahap yang lain. Peran parental sebagai contoh yang sangat jelas. Menjadi orang tua dari seorang bayi harus mampu memberikan perawatan 24 jam, sementara menjadi orang tua bagi remaja yaitu orang tua tidak boleh mengekang melainkan memberikan dukungan karena remaja berbeda dengan bayi.
5.      Model-Model Peran
Hal ini bertujuan untuk menemukan kehidupan awal keluarga, saat seorang individu mempelajari peranannya dan bagaiman pengalaman awal terjadi. Sangatlah penting memperhatiakan aspek-aspek intergenarasional dari peran-peran parental dan perkawinan.


BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Siklus Hidup Keluarga (Family Life Cycle) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan-perubahan dalam jumlah anggota, komposisi dan fungsi keluarga sepanjang hidupnya. Siklus hidup keluarga juga merupakan gambaran rangkaian tahapan yang akan terjadi atau diprediksi yang dialami kebanyakan keluarga.
Siklus hidup keluarga terdiri dari variabel yang dibuat secara sistematis menggabungkan variable demografik yaitu status pernikahan, ukuran keluarga, umur anggota keluarga, dan status pekerjaan kepala keluarga.Tahap – tahap siklus hidup keluarga :Tahap Tanpa Anak,  Tahap Melahirkan (Tahap Berkembang), Tahap Menengah ,Tahap Meninggalkan Rumah, Tahap Purna Orang Tua ,Tahap Menjanda/Menduda.
Siklus hidup keluarga dalam ilmu kependudukan  dipandang penting, karena  lima alasan pokok sebagai berikut :
v  Menunjukan interaksi antara anggota keluarga. Peristiwa-peristiwa seperti kelahiran, kematian, dan perubahan umur atau status anak, tidak hanya mempengaruhi individu-individu yang bersangkutan, tetapi juga anggota keluarga yang lain.
v  Memperjelas pengaruh yang kontinu dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahap-tahap awal siklus terhadap kehidupan keluarga sampai akhir siklus tersebut.
v  Menghilangkan konsepsi yang salah tentang keluarga, misalnya pandangan bahwa keluarga hanya  melewati satu atau dua tahap tertentu saja.
v  Merupakan suatu ringkasan yang penting tentang pengaruh gabungan faktor-faktor fertilitas, mortalitas, nupsialitas dengan faktor-faktor ekonomi dan kebudayaan.
v  Dapat menjelaskan bermacam-macam variasi kegiatan sosial demografi dan sosial ekonomi.

B.     SARAN
1.      Memperbanyak membaca buku referensi tentang siklus hidup keluarga.
2.      Mempelajari tentang siklus hidup keluarga secara lebih detail dan mendalam.
3.      Memahami apa yang dimaksud dengan siklus hidup keluarga serta tahap – tahap siklus hidup keluarga.

 
DAFTAR PUSTAKA

Astuti,Widya.2011.Keluarga berencana terkait dengan fertilitas. Diperoleh melalui.

Gar’s,blog.2013. siklus hidup keluarga. Diperoleh melalui (http://boetarboetarzz.blogspot.co.id/2013/01/siklus-hidup-keluarga-family-life-cycle.html). Diakses tanggal 11 April 2017.

J.S.Teressia.2013. Tahap – tahap siklus hidup keluarga. Diperoleh melalui (http://teesasisuseso.blogspot.co.id/2013/01/tahap-siklus-hidup-keluarga-family-life.html). Diakses tanggal 11 April 2017.

Paulpla.2009. Tahap – tahap siklus hidup. Diperoleh melalui (https://hikmatpembaharuan.wordpress.com/2009/01/25/keluarga-tahap-tahap-siklus-hidup/). Diakses tanggal 11 April 2017.

Rabiah.2010.Konflik struktur peran dalam keluarga. Diperoleh melalui  (https://rabiah65.wordpress.com/2010/12/29/konflik-struktur-peran-dalam-keluarga/). Diakses tanggal 11 April 2017.

Raachmaa.2013.pengaruh keluarga dan rumah tangga. Diperoleh melalui. (http://raachmaa.blogspot.co.id/2013/11/pengaruh-keluarga-dan-rumah-tangga.html). Diakses tanggal 11 April 2017.

Shani.Belda.2010. Tahap – tahap siklus hidup keluarga. Diperoleh melalui (http://beldashani.blogspot.co.id/2010/08/tahap-tahap-siklus-kehidupan-keluarga-1.html). Diakses tanggal 11 April 2017.







ASPEK ETIK DAN HUKUM BAYI TABUNG DAN INSEMINASI

MAKALAH ETIKA DAN HUKUM KESEHATAN ASPEK ETIK DAN HUKUM BAYI TABUNG DAN INSEMINASI DISUSUN OLEH : NAMA                   ...